Lorong Panjang
PS: This is the Indonesian language translation for A List Apart’s article The Long Hallway by Jonathan Follett. Translated with the permission of A List Apart Magazine and the author[s].
Kamu sudah pernah mendengar tentang the long tail dan the long walk home. Sekarang, untuk semua firma desain mikro yang ingin tumbuh ke tingkat berikutnya, ada the long hallway, lorong yang panjang—jarah antara ruang kerja secara fisik dari individu-individu dalam sebuah perusahaan virtual—yang bisa jadi hanya beberapa mil antar kota atau malah ribuan mil antara benua dan lautan.
Dalam lima tahun terakhir, berkat terus meningkatkan kecepatan koneksi dan ketersediaan kabel broadband yang meluas, perusahaan virtual menjadi makin populer sebagai strategi organisasi bagi bisnis di bidang teknologi. Struktur perusahaan virtual mengizinkan pekerja untuk mengintegrasi pekerjaan dan gaya hidup mereka seperti yang mereka inginkan, menjalani hidup dan bekerja kapanpun mereka mau. Jika firma desain mikro-mu telah mengerjakan sebuah proyek yang terlalu besar untuk kapasitasmu sekarang, jika kamu membutuhkan perwakilan di pasar yang baru, atau kamu menginginkan bakat terbaik namun tak dapat menemukannya di area lokalmu atau ada namun terlalu mahal, kamu bisa memilih untuk bekerja dengan mereka yang satu visi, walaupun tidak satu lokasi fisik, denganmu.
Ini bukanlah tren yang baru. Perusahaan besar telah melakukannya bertahun-tahun. Sebuah artikel 7 Juni 2006, “Have Advice, Will Travel: Running A ‘Virtual’ Company on the Fly”, dari situs karir milik Wall Street Journal, CareerJournal.com, menceritakan tentang jatuh bangunnya para eksekutif yang mengatur firma konsultasi Accenture, perusahaan dengan 129.000 pegawai dengan berbagai cabang, namun tak memiliki kantor pusat secara fisik.
Yang berubah adalah kemampuan usaha kecil untuk mengakses (dan sanggup membayar untuk) teknologi yang memungkinkan terjadinya komunikasi dan koordinasi antar kantor yang terpisah. Perusahaan piranti lunak kolaboratif SocialText awalnya adalah sebuah firma virtual, dengan pegawai tersebar di Amerika. Pada tulisan 10 Mei 2005 di blog mereka yang mengumumkan transisi mereka menuju pemakaian sebuah kantor fisik, CEO Ross Mayfield menyebutkan awal perusahaannya sebagai “bootstrapping yang dimungkinkan oleh internet”.
Untuk tim desain kecil, lorong panjang merepresentasi sebuah cara berbeda untuk bekerja dan struktur bisnis yang berbeda drastis. Jika diatur dengan mahir, ini dapat menjadi cara yang fleksibel, skalabel, dan powerful untuk bersaing dengan para pemain besar. Namun hal ini juga masih kurang teruji, cukup menantang dari perspektif manajemen, dan pada akhirnya, ia adalah sebuah metode organisasi yang masih terus berevolusi.
Ini tidaklah sama dengan telecommute di era ayahmu
Di permukaan, lorong panjang dari perusahaan virtual berbagi karakteristik dengan praktek telecommuting (bekerja jarak jauh). Para pekerja menggunakan alat-alat seperti Skype atau jasa VOIP lainnya untuk panggilan telepon dan konferensi, IM untuk tetap saling berhubungan, wiki untuk menyimpan pengetahuan dan proses-proses milik grup, dan aplikasi manajemen proyek berbasis web untuk mengorganisir pekerjaan.
Namun demikian, ada satu perbedaan mendasar antara telecommuting dan lorong panjang. Menjadi seorang pekerja jarak jauh berarti bahwa fungsi inti dari perusahaan ada di tempat lain. Para pekerja jarak jauh bekerja untuk bisnis-bisnis yang telah memiliki kultur dan bangunan fisik yang telah lama berdiri. Mereka adalah satelit yang mengorbit pada hal-hal yg lebih besar. Untuk perusahaan virtual dengan lorong-lorong panjang, perusahaan eksis di manapun orang-orangnya berada—dan tidak di manapun lagi.
Sebagai pekerja kreatif profesional, kita mengalami perubahan yang cepat dan signifikan terhadap dunia kerja kita: kompetisi makin bersifat internasional, bakat ada di mana-mana, kemampuan teknis membutuhkan update yang konstan, dan tidak ada model yang dapat kita contoh tentang bagaimana jalan karir kita nanti. Di saat yang sama, kesempatan kewirausahaan bertebaran di mana-mana, dan teknologi telah menghilangkan keharusan untuk hanya terpaku di satu tempat. Maka apa yang terjadi sekarang? Walaupun kita mungkin menginginkan kemerdekaan, kita tidak harus berjalan sendirian. Sebaliknya, kita mencari cara-cara baru berinteraksi dengan yang lain. “Model Hollywood” dalam membuat tim yang berusia-singkat, fleksibel, dan berbasis proyek adalah satu contoh. Pertemuan antar profesional dalam konferensi-konferensi adalah contoh yang lain. Sebagaimana disebutkan oleh Richard Florida dalam bukunya, “The Rise of the Creative Class”, model-model baru ini bergantung pada kekuatan jaringan personal kita, kemampuan kita untuk menjaga hubungan dengan banyak orang, dan membangun komunitas baik virtual dan fisik.
Saat ini sangat mungkin untuk membangun sebuah perusahaan yang tidak membutuhkan ruang fisik, setidaknya dalam makna tradisionalnya yaitu ruangan-ruangan kantor. Para pekerja dapat bekerja dari rumah, cafe, atau kamar hotel, mengunjungi lokasi klien hanya ketika dibutuhkan pertemuan tatap-muka. Untuk membuat, mengelola dan menumbuhkan firma semacam ini membutuhkan keahlian yang berbeda dengan yang dibutuhkan untuk mengelola organisasi tradisional.
Kultur lorong panjang untuk firma desain mikro
Dalam banyak hal, pekerjaan desain secara khusus sangat cocok untuk lorong panjang, karena praktisinya telah familiar dalam hal memvisualisasikan elemen yang belum eksis, memberika navigasi untuk ruang-ruang yang tidak familier, dan hidup dalam perubahan yang terus menerus. Meski demikian, jika sebuah firma desain virtual ingin menjadi sukses, ia harus membangun kultur adaptif yang merangsang dan memperkuat hubungan antar para kolaborator yang berjauhan. Bukanlah hal yang mudah untuk membangun sebuah tim yang berbeda lokasi dan sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab antar anggota.
Proses adalah sebuah praktek
Untuk sebuah firma desain mikro yang beroperasi sebagai perusahaan virtual, proses adalah hal yang utama, sehingga sangat enting untuk berpikir dan berpikir lagi tentang proses desainmu. Kamu harus dapat mengkomunikasikan metode-metode secara efektif agar dapat memasukkan orang-orang baru ke dalam alur kerja harianmu, menjelaskan visi tentang hasil akhir sebuah proyek nantinya, mendokumentasi pilihan-pilihan, mencatat perkembangan, dan mengulas ulang hasil-hasil. Memang benar bahwa perusahaan virtual, terutama yang berukuran kecil, harus menjadi fleksibel dalam hal tugas masing-masing orang: satu orang mungkin harus mengerjakan penjualan, pemasaran, desain, coding, dan akuntansi dalam satu hari yang sama. Meski demikian, kebanyakan orang merasa harus tahu apa yang diharapkan dari mereka, jadi berikanlah masing-masing orang tugas-tugas yang jelas, setidaknya tugas per proyek yang dikerjakan. Contohnya, jadikan seseorang sebagai kontak utama terhadap satu klien, atau, jika perusahaan punya banyak desainer atau coder, jadikan salah satu sebagai pemimpin dari masing-masing posisi tersebut untuk tiap proyek.
Bermain-main dalam jaringan sama pentingnya dengan bekerja
Jika kamu bekerja dengan orang-orang di kantor yang sama, kamu berinteraksi dengan mereka melalui pertemuan formal maupun informal di lorong, kafetaria, dan di even-even perusahaan. Pembicaraan mengenai ketertarikan dan permasalahan dapat membantu menumbuhkan rasa hormat dan kebersamaan. Untuk membuat kultur dan semangat semacam ini di dunia virtual akan membutuhkan usaha ekstra. Untuk dapat memahami satu sama lain, teman kerja virtual mungkin berbagi foto, playlist, entri di blog, maupun konten digital lain. Meski memang penting untuk mengetahui kapan waktu bekerja, penting juga diketahui waktu untuk bermain-main dan bahkan untuk mendorong terjadinya aktivitas itu. Akan ada waktunya menghubungi seseorang dengan satu daftar topik untuk dibahas, dan ada pula waktunya menghubungi hanya untuk pembicaraan kecil.
Jika membahas tentang pembuatan tim, perusahaan lorong panjang memiliki aset kultural yang tidak dimiliki perusahaan berbasis-telecommuter. Anggota tim virtual memiliki banyak kesamaan satu sama lain dalam hal kehidupan kerja sehari-hari. Para telecommuter, di sisi lain, memiliki pengalaman kerja sehari-hari yang berbeda dengan teman-teman mereka di kantor. Kamu bisa berbagi cerita dengan pekerja di rumah yang lain tentang rasanya menunggu tukang reparasi untuk datang dan membetulkan mesin cuci piring; seseorang di kantor utama sangat sulit untuk diajak berbagi tentang hal semacam itu.
Kemampuan menulis adalah aset yang tak ternilai
Dalam lingkungan virtual, jalur-jalur komunikasi, meski mudah diakses dan bervariasi, bersifat terbatas dalam hal kedalaman. Sebagai manusia, kita telah didesain untuk membaca elemen-elemen bahasa tubuh dan wajah yang, sejauh ini, masih belum ditemui lewat komunikasi elektronik. Konferensi video mungkin dapat mengubah situasi ini, namun ia masih ada dalam taraf awal, dan kemungkinan besar masih kalah efektif dibanding pertemuan langsung. Saat ini kita terutama hanya memiliki e-mail, terutama karena ia memungkinkan orang-orang dengan jadwal kerja yang berbeda untuk tetap berbagi ide. Karena itu, nada penulisan adalah sesuatu yang vital dalam kultur virtual. Kenyataannya, tulisan bisa jadi adalah alat komunikasi paling utama bagi perusahaan lorong panjang apakah itu dipakai untuk mendokumentasi spesifikasi dan proses, atau untuk mendiskusikan proyek.
Mengatur batas-batas akan menjaga kewarasan semua orang
Dalam sebuah firma virtual, dengan pekerja dalam zona waktu berbeda-beda, hari kerja tidak pernah benar-benar selesai hingga sebuah proyek rampung. Jika kamu mengelola sebuah tim lorong panjang, coder utamamu mungkin mulai bekerja tiga jam setelah kamu selesai makan malam, dan desainermu mungkin baru mulai membuka dokumen Photoshopnya saat kamu tidur. Dalam situasi seperti ini, layak diingat bahwa hanya karena kita selalu dapat berkomunikasi, tidak berarti kita harus selalu berkomunikasi. Menanyakan anggota tim tentang bagaimana dan kapan mereka lebih suka untuk dihubungi secara reguler dapat membuat perbedaan besar. Membuat perjanjian untuk konferensi telepon atau sesi IM memungkinkan komunikasi untuk tidak terlalu mengganggu dan memberi ruang bagi orang-orang untuk benar-benar bekerja.
Kepribadian adalah kunci utama
Kepribadian, nilai-nilai personal dan perilaku anggota-anggota tim dapat menunjukkan seperti apa kultur emosional dari firma virtual. Kepercayaan adalah aset yang tanpanya kamu tak dapat menjalankan sebuah perusahaan lorong panjang, jadi kejujuran dalam segala pernjanjian adalah kebutuhan yang absolut. Lebih baik mengetahui bahwa seorang anggota tak dapat menyelesaikan tugasnya daripada untuk menyadari di hari deadline yang krusial ternyata sebuah komponen desain tidak ditemukan. Kemampuan beradaptasi dan toleransi terhadap berbagai gaya bekerja adalah sifat-sifat yang dapat memiliki pengaruh besar. Dan sama seperti antusiasme dalam proyek manapun (virtual maupun tidak), energi positif dan semangat saling mendukung tak ternilai harganya. Bekerja adalah sebuah ruang vakum virtual yang di waktu-waktu tertentu dapat menguras tenaga dan semangat, dan memiliki teman kerja yang dapat memberikan dorongan semangat sangatlah membantu.
Berkumpul bersama-sama tidaklah mudah untuk dilakukan (namun sangat berarti)
Sesekali kamu mungkin sungguh-sungguh perlu mengumpulkan tim bersama-sama. Pertemuan antar-muka dengan teman kerja lorong panjang secara reguler, entah itu untuk pertemuan awal yang penting, evaluasi per 3 bulan, brainstorming, atau konferensi industri, memungkinkan orang-orang untuk bersatu dalam cara-cara yang tak bisa dilakukan di ruang virtual.
Berjalan menyusuri lorong yang panjang
Dalam membangun tim virtual, ingatlah bahwa kamu sedang berusaha melakukan sesuatu yang sangat sukar: membuat dan menjaga keterikatan antar orang-orang yang berjauhan. Jangan berpikir ini akan mudah, dan milikilah kesabaran dalam hal penjadwalan, miskomunikasi, dan masalah kepribadian. Apapun yang kamu lakukan harus meningkatkan kenyamananmu dan teman kerja, meningkatkan komunikasi dan kebersamaan, dan pada intinya membuat semua hal lebih mudah. Perusahaan besar dengan kantor-kantor mereka menghabiskan banyak uang menjaga agar pekerjanya tetap senang lewat kafetaria, fasilitas fitness, mesin-mesin pembuat kopi dan pesta ulang tahun. Sebaiknya ingat pula bahwa kamu akan menghabiskan cukup banyak sumber dayamu sendiri untuk melakukan hal yang sama, meski prakteknya akan berbeda.
Pengalaman lorong panjang, meski unik untuk tiap individu, memiliki satu aspek penting yang sama untuk tiap orang. Fleksibilitas yang diperoleh dengan metode ini memberi orang kesempatan untuk menyeimbangkan kerja dan hidup mereka—untuk berjalan-jalan keluar sesekali, mengajak anak-anak bermain di taman, membersihkan jalan dari salju ataupun pergi surfing. Dan untuk orang-orang kreatif yang memilih untuk mengejar karir seperti ini, pekerjaan virtual ditambah dengan kehidupan nyata bisa jadi adalah kultur yang persis mereka mau.
2 Comments Add yours!
terima kasih sudah menerjemahkan artikel hebat ini.
Sama-sama, mas daus